Mengapa Saya Tidak Terobsesi (Lagi) untuk Mengawinkan Agama dan Sains?

Dulu, saya pernah berada pada fase di mana saya begitu terobsesi untuk “mengawinkan” kebenaran agama dengan fakta-fakta sains. Seolah-olah tugas saya adalah memastikan bahwa apa yang saya yakini mendapatkan pembenaran dari temuan ilmiah. Lebih tepatnya, saya mencari justifikasi terhadap keyakinan saya dan berusaha mengaitkan setiap ayat atau fatwa dengan teori-teori sains yang saya temui.

Namun, seiring waktu, saya menyadari bahwa obsesi itu sebenarnya lahir bukan dari dorongan untuk mencari kebenaran, melainkan dari kebutuhan untuk mempertahankan identitas. Dulu, tujuan saya adalah membela sesuatu yang sudah saya yakini. Sekarang, tujuan saya berbeda: saya ingin mencari pengetahuan sebanyak mungkin dari berbagai perspektif, menjadikannya sebagai modal untuk membangun narasi tentang realitas semesta.

Perubahan tujuan itu membawa konsekuensi yang besar. Jika saya sungguh ingin memahami realitas, maka saya tidak boleh memilih-milih pengetahuan. Saya harus siap menerima seluruh informasi sains, baik yang selaras dengan keyakinan saya, maupun yang tampak bertentangan.

Apakah ada hal-hal dalam agama yang selaras dengan sains? Tentu ada. Apakah ada yang bertentangan? Juga ada.

  • Yang bertentangan, misalnya: kisah penciptaan instan vs teori evolusi, atau keyakinan pada mukjizat vs hukum fisika.
  • Yang selaras, juga banyak: penjelasan tentang pertumbuhan janin dalam rahim, deskripsi proses turunnya hujan, atau penciptaan alam semesta yang dalam Alquran digambarkan awalnya satu kesatuan lalu kemudian dipisahkan.

Apakah saya tertarik menghitung mana yang lebih banyak—yang selaras atau yang bertentangan? Tidak. Itu bukan lagi kepedulian saya. Kalau ada yang penasaran, silakan telusuri sendiri. Bagi saya, intinya sederhana: saya tidak ingin memiliki tendensi untuk membela atau menolak. Saya hanya peduli pada pengetahuan yang dapat menolong saya memahami realitas semesta.

Evolusi dan Kesalahpahaman tentang “Teori”

Banyak orang bertanya: bukankah evolusi itu hanya “teori”?
Ya, evolusi memang teori. Tapi kata teori dalam sains berbeda dengan arti sehari-hari. Dalam bahasa umum, teori sering dianggap sekadar dugaan. Dalam sains, teori adalah penjelasan ilmiah yang telah diuji, diverifikasi, dan didukung bukti yang kuat.

Gravitasi pun “hanya teori.” Kamu boleh tidak percaya gravitasi, tetapi jika jatuh dari ketinggian 20 meter, tubuhmu tetap akan menghantam tanah dengan sakit yang sama, entah kamu percaya atau tidak. Itulah kekuatan sebuah teori ilmiah.

Apakah evolusi memiliki bukti yang cukup kuat untuk dianggap sahih?
Dalam sains, sebuah teori harus memenuhi prinsip sufficient reason. Ada tiga kriteria utama:

  1. Koheren secara internal – premis-premisnya tidak saling bertentangan.
  2. Konsisten dengan teori besar lain yang sudah mapan.
  3. Didukung bukti kuat yang terus bertambah.

Teori evolusi memenuhi semua kriteria ini.

Mukjizat dan Hukum Alam

Bagaimana dengan mukjizat, apakah mungkin koheren dengan sains?
Inilah yang paling sulit. Sains berlandaskan pada asumsi bahwa alam semesta bekerja menurut hukum fisika yang konsisten. Tidak ada peristiwa di luar hukum itu.

Filsuf David Hume bahkan pernah berkata: seandainya ada seseorang yang terkenal sangat jujur mengaku mengalami mukjizat yang melawan hukum fisika, maka tetap saja kemungkinan ia keliru atau berbohong lebih besar dibanding kemungkinan benar-benar terjadi pelanggaran hukum alam. Bagi Hume, hukum alam lebih bisa dipercaya daripada kesaksian individu.

Pernyataan itu keras, tapi di situlah prinsip sains berdiri.

Maka, jika ditanya: mengapa saya tidak lagi terobsesi menyatukan sains dan agama? Jawabannya sederhana: saya tidak ingin keyakinan menjadi penghalang dalam menerima pengetahuan. Saya ingin membuka pintu selebar mungkin, agar perspektif apa pun bisa masuk, lalu saya olah menjadi bahan untuk memahami realitas semesta.

Tentu, bersikap terbuka terhadap pengetahuan dari luar bukan hal yang mudah. Ada beberapa sikap yang bisa membantu:

  1. Pisahkan ruang keyakinan dan ruang pengetahuan. Biarkan keyakinan hidup di ruang privat, sementara pengetahuan jadikan ruang tamu yang terbuka bagi siapa pun.
  2. Latih kerendahan hati. Berani membuka diri terhadap koreksi adalah tanda bahwa kita lebih peduli pada kebenaran daripada pada ego.
  3. Tumbuhkan rasa ingin tahu lebih besar daripada rasa takut. Takut sering membuat kita defensif, sementara rasa ingin tahu membuat kita berani menjelajah.
  4. Bertoleransi terhadap perbedaan keyakinan. Kita tidak perlu selalu bersikap defensif. Jika ada fakta yang bertentangan dengan keyakinan, anggap itu bukan serangan, melainkan tambahan data yang memperkaya cara pandang kita.

Perjalanan ini membuat saya sadar, bahwa tugas saya bukan membuktikan siapa yang benar antara agama dan sains. Tugas saya adalah belajar sebanyak mungkin, dari sebanyak mungkin perspektif, tanpa membiarkan keyakinan menutup pintu bagi pengetahuan. Dengan begitu, saya bisa terus membangun narasi yang lebih utuh tentang realitas semesta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *