Mengapa Saya Tidak Percaya Teori Evolusi?

Saya tidak pernah percaya pada teori evolusi.
Kenapa? Karena bagi saya evolusi adalah ilmu yang cukup diketahui, bukan untuk dipercayai.

Saya juga tidak percaya teori gravitasi. Tapi anehnya, kalau jatuh dari ketinggian 10 meter, entah kenapa tulang saya bisa patah dan badan terasa sakit.

Saya juga tidak percaya teori relativitas Einstein. Tapi anehnya, jam di satelit GPS tetap berbeda kecepatannya dibanding jam di ruang tamu saya.

Tampaknya, alam semesta tidak peduli pada opini saya. Dan sialnya, ia benar-benar konsisten dengan “teori-teori” itu. Pernyataan percaya atau tidak percaya dari saya ternyata tidak menambah atau mengurangi kebenaran ilmu tentang semesta. Maka, ketika orang tanya, “Mengapa Anda tidak percaya evolusi?”, saya jawab: karena evolusi tidak butuh kepercayaan, cukup pengetahuan.

Dari belajar evolusi, saya tahu fosil yang tersusun berlapis-lapis menunjukkan perubahan spesies dari waktu ke waktu. Saya tahu juga DNA manusia 98% mirip dengan simpanse – apakah ini kebetulan atau hasil desain yang sama, biarlah para ilmuwan yang pusing. Saya juga tahu bakteri bisa kebal antibiotik, contoh kecil evolusi yang sedang terjadi di depan mata.

Jadi, sekali lagi, saya tidak ingin percaya pada evolusi. Tapi pengetahuan tentang evolusi, suka tidak suka, tetap bekerja menjelaskan kehidupan di bumi. Dan sementara saya sibuk bilang “tidak percaya”, alam tetap cuek, sambil ber-evolusi dengan tenangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *