Keadilan, Penjarahan, dan Jejak Evolusi dalam Otak Manusia: Perspektif Neurosains

Peristiwa demonstrasi besar-besaran yang disertai dengan aksi penjarahan di Indonesia baru-baru ini memunculkan pertanyaan reflektif penting buat saya tentang keadilan (apakah benar-benar ada) dan penjarahan (mengapa manusia modern masih memiliki kecenderungan untuk melakukan penjarahan, sebuah perilaku yang tampak sulit dibenarkan secara moral)?

Kedua pertanyaan ini sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan politik atau etika, melainkan juga menyentuh akar terdalam dari sifat biologis manusia. Untuk memahami fenomena ini secara lebih jernih, saya menggunakan perspektif neurosains evolusioner, yakni ilmu yang mengkaji bagaimana struktur otak berkembang dalam sejarah evolusi dan bagaimana warisan perilaku nenek moyang masih memengaruhi kehidupan sosial kita saat ini.

1. Keadilan: Realitas Objektif atau Konstruksi Otak?

Keadilan sering dipahami sebagai prinsip universal yang melampaui manusia. Namun, dari sudut pandang neurosains, keadilan adalah produk kognisi sosial yang muncul dari aktivitas otak, terutama di area prefrontal cortex (PFC), bagian otak yang bertanggung jawab atas penalaran abstrak, kontrol diri, dan pengambilan keputusan moral.

Salah satu studi paling terkenal dilakukan oleh Sarah Brosnan dan Frans de Waal (2003) dengan kapusin (capuchin monkeys). Metodologi percobaannya sederhana:

  • Dua monyet diminta melakukan tugas yang sama, misalnya memberikan batu kepada peneliti.
  • Monyet pertama diberi mentimun sebagai hadiah (hadiah standar).
  • Monyet kedua diberi anggur, makanan yang jauh lebih disukai.
  • Saat monyet pertama melihat rekannya mendapat hadiah lebih baik untuk usaha yang sama, ia menjadi marah, melempar mentimun, dan menolak melanjutkan tugas.

Hasilnya menunjukkan bahwa rasa ketidakadilan bukan hanya ada pada manusia, melainkan juga muncul pada spesies primata lain. Studi lanjutan menemukan variasi: Simpanse: sangat sensitif terhadap ketidakadilan, Bonobo dan orangutan: lebih toleran, tidak terlalu reaktif terhadap ketidaksetaraan.

Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi keadilan berkaitan erat dengan ukuran dan kompleksitas PFC. Semakin besar kapasitas regulasi sosial dalam otak suatu spesies, semakin kuat pula kepekaannya terhadap keadilan.

Jika kita menggabungkan temuan tersebut, maka keadilan bukanlah “entitas objektif” di luar diri manusia, melainkan konstruksi intersubjektif: ia hanya hidup dalam jaringan sosial dan otak-otak individu yang mempercayainya. Sebagai bukti, baik manusia maupun simpanse menerima hadiah tanpa protes ketika tidak melihat orang lain diperlakukan berbeda. Dengan kata lain, keadilan muncul hanya ketika ada perbandingan sosial.

2. Jejak Evolusi dalam Perilaku Penjarahan

Pertanyaan kedua menyentuh sisi gelap manusia: mengapa penjarahan masih muncul di masyarakat modern, padahal norma moral dan hukum jelas mengutuknya? Untuk menjawabnya, kita perlu menengok sejarah evolusi perilaku manusia.

Dalam ekologi hewan, aturan yang berlaku sederhana: yang kuat menguasai sumber daya. Nenek moyang kita, baik sebagai primata maupun pemburu-pengumpul awal, hidup dalam lingkungan dengan keterbatasan sumber daya. Perebutan makanan, wilayah, dan pasangan adalah hal lumrah. Perilaku menyerang dan merebut bukanlah penyimpangan, melainkan strategi bertahan hidup.

Neurosains modern membagi fungsi otak secara evolusioner:

  • Brainstem (otak reptil): mengatur naluri dasar seperti agresi dan dominasi.
  • Sistem limbik: terkait dengan emosi, terutama dorongan untuk memperoleh sumber daya.
  • Prefrontal cortex: pengendali rasionalitas, norma, dan moral.

Saat terjadi situasi kacau (misalnya demonstrasi besar), kontrol sosial melemah. Dalam kondisi itu, lapisan otak yang lebih primitif mengambil alih, mendorong perilaku instingtif seperti menjarah. Norma moral yang dibangun PFC menjadi “bisu” sementara, digantikan naluri bertahan hidup kelompok.

Yang menarik, penjarahan hampir selalu dilakukan secara kolektif, jarang secara individual. Hal ini selaras dengan sifat primata sosial yang memiliki kecenderungan untuk mengikuti arus kelompok (herd behavior). Secara psikologis, perilaku individu bisa berubah drastis dalam massa karena: tanggung jawab moral terasa hilang karena semua orang melakukannya; ada peluang mendapatkan sumber daya tanpa konsekuensi langsung; dan keberhasilan memperoleh barang gratis memicu sistem reward di otak, memperkuat perilaku menjarah.

Jadi, dari perspektif neurosains evolusioner, kita bisa menarik kesimpulan bahwa: (1) Keadilan sejati dalam arti objektif tidak pernah ada. Yang ada hanyalah konstruksi sosial yang muncul dari interaksi antar-otak manusia (dan primata lain). Rasa adil lahir dari perbandingan sosial, diperantarai oleh prefrontal cortex. (2) Penjarahan adalah warisan evolusioner. Ia berakar pada naluri primitif perebutan sumber daya yang pernah menjadi strategi bertahan hidup nenek moyang. Dalam situasi sosial yang kacau, kontrol moral dari PFC melemah, sehingga insting lama kembali muncul.

Fenomena demonstrasi dan penjarahan bukan sekadar isu politik, tetapi juga cermin dari otak manusia sebagai produk evolusi. Kesadaran akan hal ini memberi kita perspektif baru: bahwa membangun masyarakat yang adil dan bermoral bukan hanya soal aturan hukum, tetapi juga bagaimana kita mendesain lingkungan sosial yang mampu “menjinakkan” warisan instingtif dalam otak kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *