Banyak orang mungkin menginginkan kehidupan menurut idealitas yang dia pikirkan. Itu bukan hal aneh. Meskipun kondisi ideal yang ada dipikiran setiap orang pasti berbeda. Tapi faktanya, kehidupan selalu memiliki jalan ceritanya sendiri.
Misal: saya menginginkan diskursus yang sehat di media sosial. Saya tidak suka kalo hanya di-suggest topik yang sama terus. Saya menginginkan konten yg edukatif. Dan banyak orang mungkin memiliki keinginan seperti saya.
Tapi faktanya media sosial mendukung konten yg serupa terus dengan ketertarikan kita. Konten hiburan lebih laku daripada substansi. Karena memang itulah yang menguntungkan untuk tujuan ekonomis. Mendatangkan iklan dan menghasilkan konversi. Sehingga algoritma disusun mengikuti hal itu.
Artinya, realitas tidak selalu berjalan mengikuti apa yg kita anggap ideal.
Jadi, saya dalam hidup ini gak punya tendensi agar cerita hidup ini mengikuti kemauan saya. Saya hanya fokus saja menyajikan alternatif dan kalo bisa sebanyak mungkin alternatif, berdasarkan lingkar pengetahuan yg saya miliki.
Karena mungkin saja apa yg menurut saya ideal, ternyata bukan kondisi yg paling cocok dengan realitas.
Sebagaimana panda yg beradaptasi dengan makan bambu, meski harus BAB/buang air besar sebanyak 50 kali sehari. Tentu saja, itu bukan keadaan ideal yang diinginkan oleh panda. Tapi itulah kompromi yg memungkinkan panda tetap hidup dalam kondisi lingkungan yg tersedia.
Kehidupan adalah soal kompromi. Kehidupan bukan proses menuju kondisi ideal, melainkan proses menemukan kompromi yang masih dapat bekerja dalam batas-batas realitas.
Idealisme penting sebagai kompas arah, tetapi realitas menentukan medan yang harus dilalui. Kehidupan bukan tentang mencapai dunia yang sempurna, melainkan terus mencari kompromi terbaik antara apa yang kita cita-citakan dan apa yang memang mungkin terjadi.
Karena itu kita tetap perlu berupaya menjalani kehidupan menurut idealitas kita. Tapi upaya itu hanya sebagai salah satu bentuk memperbanyak variasi alternatif yg barangkali berjodoh dengan garis evolusi.
Sebagaimana sebagian keturunan beruang panda yg berjodoh dengan pohon bambu. Kita menyajikan alternatif cerita, tapi biarkan realitas alam sendiri lah yang akan memilih cerita mana yang akan dia pilih dalam drama evolusi ini.
Mungkin tugas kita bukan menentukan cerita mana yg harus terjadi, tapi memperbanyak kemungkinan cerita yg bisa terjadi. Lalu membiarkan realitas memilih mana yg akhirnya mampu bertahan.