Setiap bangunan pengetahuan pada akhirnya bersandar pada fondasi yang tidak lagi bisa dibuktikan oleh sesuatu yang lebih dasar. Fondasi itu disebut aksioma. Aksioma adalah kebenaran yang diterima sebagai sesuatu yang self-evident, kebenaran yang tidak memerlukan pembuktian karena justru menjadi titik tolak dari seluruh sistem pembuktian. Dengan kata lain, setiap body of knowledge berdiri di atas keyakinan tertentu, sebuah faith epistemologis yang dipeluk sejak awal.
Dalam sains, aksioma itu tampak dalam metode ilmiah. Ilmuwan percaya bahwa realitas bisa diurai dan dipahami lewat observasi, eksperimen, dan rasionalitas. Keyakinan ini tidak pernah bisa dibuktikan secara mutlak—kita hanya menerimanya karena tanpa itu, seluruh proses sains tidak bisa berjalan. Di samping itu, sains juga berpegang pada hukum logika seperti law of excluded middle—sesuatu tidak bisa sekaligus benar dan salah—serta prinsip sufficient reason yang menegaskan bahwa segala sesuatu pasti memiliki alasan atau penyebab. Semua itu adalah titik berangkat yang tidak dibuktikan, melainkan diyakini, sehingga sains sesungguhnya juga berdiri di atas suatu bentuk iman: iman pada keteraturan alam semesta dan pada kemampuan akal manusia untuk memahaminya.
Agama pun memiliki titik berangkat yang serupa, meski dengan warna yang berbeda. Dalam Islam, misalnya, syahadat adalah pernyataan iman yang menjadi fondasi seluruh ajaran. Dalam tradisi agama lain, bentuknya bisa berbeda, tetapi fungsinya sama: sebagai pengakuan awal akan realitas transenden yang tidak seluruhnya bisa diverifikasi dengan instrumen empiris. Iman dalam agama adalah faith yang mengandaikan penerimaan terhadap kebenaran ilahi, wahyu, atau realitas yang melampaui jangkauan rasio semata. Premis agama bersifat universal, hadir melintasi waktu dan tempat, mengikat manusia pada orientasi moral dan makna hidup.
Dari sini kita melihat bahwa sains dan agama, meskipun sering dipertentangkan, pada dasarnya sama-sama bersandar pada aksioma. Perbedaannya terletak pada jenis aksioma yang dipeluk. Sains memilih fondasi empiris-rasional, agama memilih fondasi transenden-moral. Keduanya membutuhkan lompatan keyakinan awal sebelum melangkah lebih jauh. Tanpa menerima aksioma itu, sains tidak mungkin membangun teori, dan agama tidak mungkin menuntun hidup.
Menyadari hal ini memberi kita sikap yang lebih rendah hati: tidak ada sistem pengetahuan yang sepenuhnya bebas dari faith. Sains bukan sekadar kumpulan fakta tanpa asumsi, dan agama bukan sekadar dogma tanpa rasionalitas. Keduanya adalah jalan manusia dalam mengupayakan kebenaran, berangkat dari titik-titik aksioma yang pada akhirnya kita terima dengan iman.