Ada sebuah penelitian tentang kehidupan sosial sekelompok monyet. Pada awalnya peneliti memasukkan 5 individu monyet dalam sebuah kurungan. Lalu, di tengah kurungan tersebut dipasang sebuah tangga yang bisa dipakai untuk mengambil 1 buah pisang diatasnya. Tangga tersebut di desain, agar hanya ada 1 monyet yang bisa memanjat dan mengambil pisang. Setiap ada 1 monyet berhasil ngambil diatas, peneliti menyemprot 4 monyet lain dengan air dingin. Hal itu diulang terus bekali².
Hasilnya, setelah beberapa lama, terbentuk kesepakatan tak tertulis oleh 5 monyet tersebut: setiap ada yg mau manjat dan ngambil pisang ke atas, selalu dicegah dan ditarik oleh keempat lainnya. Karena setiap individu monyet tahu konsekuensi yg ditimbulkan. Bahwa mereka akan disemprot, dan mereka tidak suka. Tidak ada individu yang mau sengsara saat salah satu dapat kenikmatan.
Pada percobaan selanjutnya, 1 monyet diganti, masuk monyet baru. Rule tetap berlanjut. Sampe akhirnya diganti semua dengan 5 monyet baru. Dan ternyata rule tetap berlanjut. Mereka selalu mencegah saat ada individu yang mencoba memanjat ke tangga untuk mengambil pisang. Padahal lima monyet yang baru tsb tdk tahu kenapa harus menjalankan rule tersebut. Mereka tidak pernah merasakan sebab nya. Tetapi aturan yang sudah terbentuk sebelumnya tetap dipertahankan.
Hal yg sama terjadi pada budaya manusia. Jika kita tidak pernah tahu alasan sebuah budaya dibuat. Jangan pernah terburu² untuk ingin mengubahnya atau menghapusnya. Untungnya, kita sebagai spesies yang mengenal bahasa verbal, kita bisa menjelaskan kepada generasi setelah kita tentang sebab akibat sebuah budaya. Berbeda dengan monyet yang tidak bisa mengkomunikasikan secara verbal tentang sebab akibat sebuah aturan sosial.