Pada dasarnya setiap orang punya kecenderungan untuk membagikan pengalaman spiritual nya kepada orang lain. Meskipun pengalaman spiritual adalah hal yang sangat subjektif. Tapi hampir setiap orang yang mendapatkan kenikmatan dr pengalaman spiritual nya, selalu berupaya agar orang lain juga ikut merasakannya.
Saya rasa, fenomena ini tidak hanya ditemukan pada orang yg merasakan kenyamanan setelah belajar agama. Tapi juga orang yang belajar sains. Ketika, mengalami ketakjuban saat menjelajahi pengetahuan tentang alam semesta, pada umumnya mereka juga ingin agar orang lain ikut merasakan apa yang dialaminya.
Tentu saja, itu tidak masalah. Yang kadang menimbulkan problem adalah jika pengalaman spiritual itu dijadikan dasar pada permasalahan sosial. Konsekuensi nya bisa berantai. Kadang kita punya niat baik untuk menyelesaikan masalah, tapi tidak sadar bahwa bisa jadi kita sebetulnya menambah masalah baru atau memperpanjang konflik yang sudah ada. Karena seringkali pengalaman spiritual lebih melibatkan faktor emosional dibanding rasional. Sebagai pilihan personal mungkin gak pp. Tapi kalau sudah direplikasi ke society, problem nya jadi lebih panjang.
Dorongan untuk membagikan pengalaman spiritual kemungkinan besar bukanlah sesuatu yang unik pada agama. Ia tampaknya merupakan bagian dari sifat manusia untuk membagikan pengalaman yang dianggap sangat bermakna. Dari sudut evolusi, kecenderungan ini dapat meningkatkan penyebaran pengetahuan, memperkuat ikatan sosial, dan membantu kelangsungan hidup kelompok.
Sedangkan untuk membedakan pengalaman subjektif dan kebenaran objektif, prinsip yang berguna adalah: pengalaman seseorang layak dihormati sebagai pengalaman, tetapi penjelasan tentang penyebab pengalaman tersebut memerlukan bukti atau argumen tambahan. Dengan kata lain, merasakan sesuatu dan membuktikan penyebabnya adalah dua persoalan yang berbeda.