Sejak SMA, saya sering merasa tertarik pada banyak hal yang berbeda-beda. Saya tidak pernah bisa hanya diam di satu jalur. Saya bergabung ke berbagai organisasi, bukan karena ambisi tertentu, tapi karena rasa penasaran yang sulit dijelaskan. Waktu kuliah, saya bahkan memilih kampus yang tidak pernah terpikirkan oleh teman-teman saya. Setelah itu, saya pun sempat ingin tahu tentang jurusan lain, sekadar untuk mencari jawaban atas konsep yang belum saya mengerti.
Perjalanan saya setelah kuliah pun serupa: mencoba bekerja, kemudian berbisnis, hingga akhirnya mengenal investasi. Dari sana saya belajar bagaimana cara mendapatkan penghasilan yang cukup. Namun anehnya, meski sudah paham jalannya, saya tidak pernah benar-benar tertarik menjadi miliarder atau konglomerat. Seolah-olah itu bukan tujuan saya.
Kadang saya merasa pikiran saya sangat acak, seperti semesta kecil yang penuh dengan pertanyaan dan cabang ke mana-mana. Tetapi ada satu hal yang justru membuat saya merasa lebih tertata: sains. Saat mendalami sains, saya merasakan ketenangan, bahkan semacam rasa lega.
Saya merasa otak saya memang ditakdirkan untuk merangkai pertanyaan-pertanyaan, terutama tentang alam semesta. Mungkin saya tidak akan pernah tahu makna hidup saya secara pasti. Namun, satu hal yang saya tahu: saya sudah cukup bahagia bisa berusaha memahami bagaimana semesta ini bekerja. Dan meskipun pemahaman itu tidak akan pernah sepenuhnya tercapai, proses untuk terus mencari dan mengerti- itulah yang membuat hidup saya terasa berarti.